Rabu, 29 Agustus 2012

Kata - Kata Mutiara Bung Karno


Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)

“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)
“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)

Teka - Teki Lukisan Monalisa



AFP Relax - Sejumlah arkeolog menggali kerangka manusia hari Selasa (24/7) lalu di sebuah biara terbengkalai di Florence, Italia. Kerangka tersebut berada dalam keadaan utuh dan diduga sebagai jasad wanita yang berada di lukisan "Mona Lisa".

Sejumlah kerangka sudah digali dalam pencarian jasad Lisa Gherardini, bangsawan Florence yang dipercaya sebagai inspirasi lukisan "Mona Lisa" buah tangan Leonardo da Vinci. Silvano Vinceti, kepala tim arkeolog Italia dalam misi pencarian ini, menyatakan bahwa penemuan kerangka terbaru ini sangat menggembirakan, meskipun mereka masih harus menunggu hasil tes untuk memastikan identitas jasad tersebut.

"Saat ini para peneliti sedang melewati bagian paling menegangkan," ujar Vinceti, yang juga seorang ahli pengungkapan misteri seni.

"Ini adalah titik puncak dalam pekerjaan kami, saat kami sudah sangat dekat kepada jawaban pertanyaan, 'Apakah kita akan menemukan jasad Lisa Gherardini?'," lanjutnya.

"Hari ini kami menemukan peti mati dengan kerangka utuh di dalamnya. Sebuah kemajuan yang sangat penting, karena sepanjang penelitian tahap pertama, kami sama sekali tak menemukan kerangka manusia. Jasadnya sudah dipindahkan ke tempat lain," ujar Vinceti.
Spoiler for pict: 
http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2012/07/27/2999936_20120727085224.jpg

Tim arkeolog ini mulai melakukan penggalian di lantai semen sebuah biara terbengkalai di Florence sejak tahun lalu. Keputusan ini diambil setelah sebuah dokumen mengungkapkan bahwa Lisa Gherardini, istri dari saudagar sutra kaya di Florence bernama Francesco del Giocondo, menghabiskan sisa hidupnya di biara tersebut setelah sang suami wafat. Di biara ini ia dirawat oleh dua orang anaknya yang menjadi biarawati.

Setelah wafat, ia dikebumikan di sana pula.

Kabarnya Del Giocondo membayar Leonardo da Vinci untuk membuatkannya lukisan wajah istrinya. Meskipun minim bukti, sebagian besar sejawaran dan ahli senin setuju bahwa Lisa Gherardini adalah model dalam lukisan paling terkenal di dunia itu.

"Mona Lisa" dilukis antara tahun 1503 dan 1506, dan kini tergantung di dinding museum Louvre di Paris, Prancis.
t-famil7� ra ) ��serif"; color:black;background:#F5F5FF'>يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

"Dan berkata Fir'aun: 'Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta." (Al-Qashash:38)

Ayat ini menunjukkan rahasia dari teknologi konstruksi yang digunakan untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti disebutkan "buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi". Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat: "Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat!"

Subhanallah! Ada bukti yang menunjukkan bahwa patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban Rumania dan yang lainnya juga dibangun dari tanah liat! Dapat dikatakan: bahwa keajaiban Al Qur'an menunjukkan cara untuk membangun bangunan-bangunan dari tanah liat dan ini yang tidak diketahui pada waktu turunnya Alquran hingga zaman modern saat ini.

Siapa yang memberitahukan kepada Nabi saw tentang berita ini?
Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Pertanyaannya adalah:
Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana Nabi saw sebelum 1400 tahun yang lalu memberitahukan bahwa Firaun enggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen ...
Ayat ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah membawa apapun dari padanya tetapi Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa ... Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya pada zaman modern ini!!Subhanallah! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai akal.

Rahasia Membangun Piramida Fir'aun Terdapat Dalam AL-QUR'AN



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJZkX4kS4j-CoKk7NEXPxgefm2U-bn8mCVj29R8l0qFzfMg5iu5wTIugAaoCctnrZEtu0eWaen6wvEx3HqwnQjk3ZPBEjHTESywWk6QgraF_jNTi50H6fwU_9PD11fDKG82l81EPVmGbfw/s1600/piramida-Giza-mesir.jpg
Sejak lama para ilmuwan bingung bagaimana cara sebuah piramida dibangun. Hal ini karena teknologi mengangkat batu-batu besar yang bisa mencapai ribuan kilogram ke puncak-puncak bangunan belum ditemukan di zamannya. Apa rahasia di balik pembangunan piramida ini?

Dalam edisi tanggal 1 Desember 2006, Koran Amerika Times menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian tersebut disebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat piramida adalah tanah liat yang dipanaskan hingga membentuk batu keras yang sulit dibedakan dengan batu aslinya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dalam mengelola tanah liat hingga menjadi batu. Dan teknik tersebut menjadi hal yang sangat rahasia jika dilihat dari kodifikasi nomor di batu yang mereka tinggalkan.

Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang paling besar di Giza, terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual alias olahan tanah liat.

Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah "Journal of American Ceramic Society" menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry untuk membangun monumen yang tinggi, termasuk piramida. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan kilogram. Sementara untuk dasarnya, Firaun menggunakan batu alam.

Piramida, dan lumpur yang sudah diolah menurut ukuran yang diinginkan dibakar untuk diletakkan di tempat yang paling tinggi.

Lumpur tersebut merupakan campuran lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air sehingga membentuk campuran tanah liat. Kemudian olahan itu dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida.

Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop elektron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur. Selama ini, tanpa penggunaan mikroskop elektron, ahli geologi belum mampu membedakan antara batu alam dan batu buatan.

Dengan metode pembuatan batu besar melalui cara ini, sang profesor membutuhkan waktu sepuluh hari hingga mirip dengan batu aslinya.

Sebelumnya, seorang ilmuwan Belgia, Guy Demortier, telah bertahun-tahun mencari jawaban dari rahasia di balik pembuatan batu besar di puncak-puncak piramida. Ia pun berkata, "Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi, sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat."

Selama ini, ilmuwan hanya mempunyai jawaban yang fiktif soal cara membangun piramida Firaun. Bagaimana mengangkat batu-batu besar yang jumlahnya mencapai 2,8 juta batu. Waktu itu, mereka menyatakan secara fiktif bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengangkat jutaan batu yang beratnya sekitar lima atau enam ribu kilogram!

Penemuan oleh Profesor Prancis Joseph Davidovits soal batu-batu piramida yang ternyata terbuat dari olahan lumpur ini memakan waktu sekitar dua puluh tahun.

Sebuah penelitian yang luas tentang piramida Bosnia, "Piramida Matahari" dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. (Gambar dari batu piramida).

Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!

Alquran Ternyata Lebih Dulu Punya Jawaban
Jika dipahami lebih dalam, ternyata Alquran telah mengungkapkan hal ini dari beberapa ayat-ayat yang Allah firmankan. Antara lain:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

"Dan berkata Fir'aun: 'Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta." (Al-Qashash:38)

Ayat ini menunjukkan rahasia dari teknologi konstruksi yang digunakan untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti disebutkan "buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi". Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat: "Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat!"

Subhanallah! Ada bukti yang menunjukkan bahwa patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban Rumania dan yang lainnya juga dibangun dari tanah liat! Dapat dikatakan: bahwa keajaiban Al Qur'an menunjukkan cara untuk membangun bangunan-bangunan dari tanah liat dan ini yang tidak diketahui pada waktu turunnya Alquran hingga zaman modern saat ini.

Siapa yang memberitahukan kepada Nabi saw tentang berita ini?
Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Pertanyaannya adalah:
Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya. Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengetahui tentang rahasia piramida. Sebelum ini, para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana Nabi saw sebelum 1400 tahun yang lalu memberitahukan bahwa Firaun enggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen ...
Ayat ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah membawa apapun dari padanya tetapi Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa ... Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannya pada zaman modern ini!!Subhanallah! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai akal.

Biografi Singkat Bung KARNO


Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai “Pahlawan Proklamasi”. (kepustakaan-presiden.pnri.go.id)

Rabu, 25 April 2012

Integritas Pribadi dan Kepemimpinan Etis

      Integritas pribadi adalah sebuah atribut yang membantu menjelaskan efektivitas kepemimpian.Dalam penelitian lintas budaya mengenai ciri penting untuk kepemimpinan yang efektif,integritas hampir berada di puncak daftar dalam semua budaya yang dipelajari.Kebanyakan sarjana menganggap integritas menjadi sebuah persyaratan untuk kepemimpinan etis.Namun integritas telah didefinisikan dalam beragam cara dan definisi yang tepat masih menjadi subjek perdebatan (Barry & Stepehns,1999;Locke & Becker,1999).
      Definisi yang paling dasar menekankan kejujuran dan konsistensi antara nilai dan perilaku seseorang.Apa yang dihargai pemimpin dan bagaimana orang itu bertindak bukanlah bagian dari definisi ini.Para kritikus berpendapat bahwa definisi ini tidak cukup,karena nilainya haruslah moral dan perilaku haruslah etis (misalnya,Becker,1998).Bagi para kritikus ini,integritas berarti perilaku seseorang harus konsisten dengan  sekumpulan prinsip moral yang dapat dibenarkan.Konsistensi antara tindakan dan prinsip moral tidak memenuhi syarat .Jadi,seorang pencuri yang yakin bahwa secara moral mencuri dari organisasi yang korup itu dapat diterima tidak akan digolongkan memiliki integritas yang tinggi.Keterbatasan dari definisi yang lebih kokoh adalah kesulitan menjadi masalah untuk nilai dna prinsip yang berbeda antar - budaya ,dan untuk prinsip yang melibatkan nilai yang bersaing (misalnya,kontroversi aborsi atau pembunuhan karena kasihan).
       Beberapa contoh dari perilaku yang biasanya dianggap sebagai dapat dibenarkan secara moral meliputi mengikuti peraturan dan standar yang sama yang berlaku bagi orang lain,jujur dan terus terang saat memberikan informasi atau memberikan pertanyaan,menepati janji dan komitmen,dan mengakui tanggung jawab untuk kesalahan sambil berusaha memperbaiki.Namun,seorang pemimpin bisa memiliki motif tersembunyi dalam menggunakan perilaku yang secara moral terlihat dapat dibenarkan.Sebagai contoh,seorang pemimpin dapat menggunakan kebaikan untuk mwndapatkan kepercayaan dari orang yang kemudian dieksploitasi.Karena alasan ini,perlu mempertimbangkan maksud dan nilai pemimpin itu dan juga perilaku saat mengevaluasi kepemimpinan etis.Agar menjadii etis,pemimpin harus tidak memiliki maksud melukai dan menghormati hak dari semua pihak yang terpengaruh (Gini,1998).

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

           Beberapa teori tentang kepemimpinan transformasional atau inspirasional didasarkan pada ide dari Burns (1978),tetapi telah ada lebih banyak penelitian empiris mengenai versi dari teori yang diformulasikan oleh Bass (1985,1996) daripada versi lainnya.Inti dari teori itu adalah perbedaan antara kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional.Kedua jenis kepemimpinan itu didefinisikan dalam hal perilaku komponen yang digunakan untuk mempengaruhi para pengikut dan pengaruh dari pemimpin pada para pengikut.
           Dengan kepemimpinan tranformasional,para pengikut merasakan kepercayaan,kekaguman,kesetiaan dan penghormatan terhadap pemimpin,dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan dari mereka.Menurut Bass,pemimpin mengubah dan memotivasi para pengikut dengan : 
> membuat mereka lebih menyadari pentingnya hasil tugas.
> membujuk mereka untuk mementingkan tim atau organisasi daripada kepentingan pribadi.
> mengaktifkan kebutuhan mereka yang lebih tinggi.
Sebaliknya,kepemimpinan transaksional melibatkan sebuah proses pertukaran yang dapat menghasilkan kepatuhan pengikut akan permintaan pemimpin tapi tidak mungkin menghasilkan antusiasme dan komitmen terhadap sasaran tugas.
            Bagi Bass (1985),kepemimpinan transformasional dan transaksional itu berbeda tapi bukan proses yang sama - sama eksklusifnya.Kepemimpinan transformasional lebih meningkatkan motivasi dan kinerja pengikut dibandingkan kepemimpinan transaksional,tapi pemimpin yang efektif menggunakan kombinasi dari kedua jenis kepemimpinan tersebut.

Selasa, 27 Maret 2012

Sejarah Bahasa Sunda dan Perkembangannya


Bahasa menunjukkan bangsa, kata ini dipahami betul oleh para sarjana sunda. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Dengan demikian, bahasa adalah representasi, cerminan suatu kebudayaan; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur.
Tidak diketahui pasti kapan bahasa sunda lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).
Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.
Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.
Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:
  • Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)
  • Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.
Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.
Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.
Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.
Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.
Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.
Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.
Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.
Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno

Bahasa Sanskerta secara genealogis termasuk dalam rumpun Bahasa Indo Eropa.
Rumpun Bahasa Indo Eropa terdiri atas cabang-cabang Bahasa Jerman, Armenia,Baltik, Slavia, Roman, Keltik, Gaulis dan Indo Iranika.
Cabang keluarga Bahasa Indo Eropa di Asia yang terbesar adalah kelompok Indo Iranika. Kelompok ini terdiri dari dua subkelompok yaitu Iranika dan Indika ( Indo Arya ).

Subkelompok Bahasa Indo Arya dalam perkembangannya secra umum terbagi mejadi tiga periode yaitu, periode kuna (Old Indo Aryan) sekitar + 1500 SM, periode pertengahan (Middle Indo Aryan) sekitar + 500 SM dan terakhir adalah periode modern (Modern Indo Aryan) sekitar + 1000 M. pembagian antar periode tersebut hanya berrsifat perkiraan, sebab keberadaan antar periode pada kenyataannya saling tumpang tindih, bahkan penggunaan bahasa dari periode yang lebih tua tetap dipakai pada periode yang lebih muda.

Fase awal dari periode kuna (Old Indo Aryan) terwakili oleh bahasa yang digunakan dalam teks Weda. Weda yang tertua adalah Rig Weda yang merupakan kumpulan mantra-mantra religius. Teks ini diperkirakan berasal dari milenium kedua sebelum masehi. Teks-teks Weda lainnya yang juga berasal dari fase ini antara lain Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Tradisi Weda pada tahap selanjutnya menghasilkan karya sastra berbentuk prosa seperti Brahmana dan Upanishad.

Bahasa yang dipakai di dalam teks-teks Weda merupakan bahasa kesastraan yang dipakai oleh para pendeta. Bahasa ini dikenal sebagai vaidiki bhasa. Selain itu di luar kesastraan Weda dikenal Laukiki bhasa yakni bahasa yang dipakai rakyat kebanyakan. Bahasa masyarakat kebanyakan ini kemudian diperbaiki dan ditata menurut aturan tata bahasa sehingga bebas dari kata-kata keliru yang biasa muncul.
Sehingga juga disebuat sebagai samskerta yakni sesuatu yang sudah diperbaiki atau dibersihkan. Penamaan dengan istilah bahasa Sanskerta merupakan penamaan yang tidak didasarkan asal bangsa pemakainya atau letak geografisnya.

Ahli tatabahasa yang terkenal dalam upaya pemurnian kembali bahasa dengan aturan tata bahasa adalah Panini (+ 400 SM). Melalui karyanya yang berjudul Astadhyayi, Bahasa Sanskerta menjadi dibakukan dan berkembang sejalan dengan peraturan tatabahasa yang telah ia buat. Dengan adanya aturan tatabahasa yang dibuat Panini tersebut, akibatnya muncul istilah prakrita bahasa umum, sederhana”. Bahasa Prakrit merupakan dialek umum yang berkembang secara alami. Karya Panini ini selanjutnya disempunakan olek Katyayana (+ 300 SM) dan Patanjali (+ 200 SM).

Karya Panini ini dapat dianggap sebagai usaha yang menstabilkan tatabahasa Sanskerta dari karya-karya ahli tatabahasa sebelumnya seperti Yaska dalam Nirukta dari abad V SM. Panini dalam upaya standarisasi Bahasa Sanskerta diyakini menggunakan lingua franca dari daerah barat laut yang digunakan kaum agamawan dan kemudian dipakai pula dalam bahasa pemerintahan. Bahasa Sanskerta mulai dipakai sebagai bahasa ketatetapan resmi yakni pada masa dinasti Śaka dari daerah Ujjayinī ( 150 M ).

Pengaruh India diindikasikan mulai menyebar di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia antara abad II hingga III Masehi. Penyebaran ini diperkirakan melalui perdagangan laut. Kurun waktu tersebut bersamaan dengan dikenalnya teknologi transportasi laut, akibatnya pengaruh India mulai menyebar di wilayah persinggahannya yang kemudian menjadi dasar pokok dalam pendirian kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah Asia Tenggara. Pengaruh India yang berupa ajaran agama Hindu-Budha masuk ke wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan dibawa oleh guru-guru agama atau penduduk asli yang kembali ke negeri aslanya setelah lama bermukim di India. Para guru agama dan kaum terpelajar tersebut diperkirakan sebagai orang-orang yang mengenalkan Bahasa Sanskerta ke dalam rumpun Bahasa Austronesia yang termasuk di dalamnya Bahasa Jawa Kuna.

Rumpun Bahasa Austronesia yang juga disebut sebagai Melayu Polinesia mencakup bahasa-bahasa di wilayah Indonesia, Melanesia dan Polinesia. Penutur bahasa-bahasa Austronesia tersebar luas mulai dari sebelah barat yaitu Pulau Madagaskar hingga ke sebelah timur yaitu Pulau Paskah, serta di sebalah utara yaitu Pulau Formosa hingga ke selatan mencapai New Zealand. Hanya terdapat dua perkecualian kecil yaitu orang asli di Malaysia pedalaman yang menuturkan bahasa-bahasa rumpun Austroasia dan beberapa suku di Indonesia bagian timur yang menuturkan bahasa-bahasa Papua.

Rumpun Bahasa Austronesia mencakup bahasa-bahasa yang masih digunakan maupun bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang telah punah tersebut biasanya meninggalkan bukti tertulis yang menunjukkan tingginya peradaban di masanya. Bahasa-bahasa tersebut antara lain Bahasa Cham dan Bahasa Jawa Kuna yang keduanya termasuk dalam subkelompok Bahasa Melayu Polinesia Barat. Bahasa-bahasa yang digunakan pada kebudayaan kuna tersebut, di dalam studi perkembangan bahasa hanya disebut sebagai old language bukan sebagai bahasa awal ( proto language ).

Bahasa Jawa Kuna merupakan salah satu bentuk perkembangan dari Bahasa Proto Malayo Javanic yang merupakan bahasa yang dipakai oleh masyarakat bahasa di Jawa pada masanya. Keberadaan Bahasa Jawa Kuna, di kawasan Pulau Jawa pada khususnya serta di kawasan Asia Tenggara pada umumnya, pada abad VI Masehi keberadaannya pernah dideskripsikan oleh sumber Cina yakni dengan penyebutan Kun Lun.
Istilah Kun Lun digunakan untuk menyebut bahasa yang dipakai penduduk di daerah Sumatra, Jawa dan juga Campa. Hal ini dapat disebabkan karena bahasa-bahasa di berbagai daerah tersebut terdengar sebagai bahasa yang sama oleh para musafir Cina, selain itu bahasa-bahasa tersebut secara linguistis memang serumpun yang di dalamnya banyak dijumpai istilah-istilah dari Bahasa Sanskerta.

Berbeda dengan kemunculan dan perkembangan Bahasa Sanskerta yang dapat ditelusuri kembali dari masa yang paling tua melalui teks-teks Weda, Bahasa Jawa Kuna dalam kemunculannya dapat dikatakan muncul dengan tiba-tiba yakni dari suatu masa tanpa tinggalan tertulis tiba-tiba muncul tinggalan tertulis yang telah memiliki ciri-ciri perkembangan lebih lanjut sebagai satu bahasa Nusantara. Hal ini dipahami bila hanya didasarkan atas temuan prasasti berbahasa Jawa Kuna yang paling tua yaitu, Prasasti Sukabumi (804 M). Meskipun demikian, tidak berarti di Pulau Jawa sebelum tahun tersebut belum terdapat budaya tulis, tetapi tahun tersebut hanya merupakan titik awal ditemukannya prasasti berbahasa Jawa Kuna.

Pada masa yang lebih tua dari angka tahun Prasasti Sukabumi di Pulau Jawa sebenarnya telah terdapat tinggalan tertulis tetapi menggunakan Bahasa Sanskerta (kurun waktu 732 M hingga 792 M) dan Bahasa Melayu Kuna (792 M). Dari prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa pada kurun waktu abad XIII hingga IX Masehi, terdapat tiga bahasa yang hidup dan dikenal oleh masyarakat. Bahasa Jawa Kuna untuk pertama kali ditemukan dalam prasasti berangka tahun 804 M, hal ini tentu tidak dapat dipungkiri bahwa sebelumnya pasti terdapat budaya tulis yang menggunakan Bahasa Jawa Kuna dengan media yang tidak awet seperti kulit kayu, kulit binatang atau pada daun.

sumbangan bahasa MELAYU RIAU kepada Bahasa Indonesia

Pada umumnya orang mengetahui bahwa bahasa lndonesia yang sekarang berasal dari bahasa Melayu. Istilah bahasa Melayu sendiri mengacu pada bahasa Melayu Riau, yaitu bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah sebelum Perang Dunia II berkecamuk. Beberapa bahasa daerah juga memberikan sumbangan kepada bahasa Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan lain-lain. Bahkan, bahasa Indonesia juga mendapat sumbangan dari bahasa Barat. Penerbitan buku di Leiden dengan judul European Loan Words in Indonesian: A Checklist of Words of European Origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay tahun 1983 mengingatkan tentang sumbangan bahasa-bahasa Barat kepada bahasa Indonesia. “Apa sumbangan bahasa Melayu Riau terhadap bahasa Indonesia? Akankah semua kata yang berada dalam kamus Melayu dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia? Bagaimana dengan tata bahasanya?” Penulis memperkirakan hal ini sama dengan berbagai buku tentang gramatika bahasa Melayu yang juga dapat dianggap membicarakan bahasa Indonesia. Kalau demikian jalan pikiran kita, maka kita hanya mengganti nama saja, yaitu dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Akan tetapi, cara seperti ini tentunya bukan satu-satunya jalan untuk melihat persoalan (Anwar, 1980: 24–27).


2. Masalah Nama
Selain diperingati sebagai bulan Sumpah Pemuda, bulan Oktober juga diingat sebagai bulan pengukuhan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. “Apakah sesudah peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 kita sudah benar-benar mempunyai bahasa Indonesia, atau lebih tepat lagi menanamkan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia? Ataukah pada waktu itu orang Indonesia menganggap bahwa bahasa Melayu Riau sama dengan bahasa Indonesia?” Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada kesepakatan bulat di antara golongan nasionalis Indonesia pada waktu itu tentang hal tersebut. Banyak orang yang menginginkan kemerdekaan Indonesia, namun tidak setuju bahasa Melayu disebut bahasa Indonesia. Penulis sudah pernah membahas masalah ini di buku lain (Anwar, 1980: 24–27). Barangkali alasan yang paling kuat mengenai status bahasa Indonesia ialah sejak didirikannya Republik Indonesia, sebab dalam Undang Undang Dasar 1945 disebutkan nama bahasa Indonesia. Namun, pernyataan ini tentu hanya dari sisi dasar hukumnya.

Pembahasan ini sebaiknya juga menyinggung sedikit tentang bahasa Melayu Riau. “Apakah penggunaan istilah bahasa Melayu Riau sudah benar?” Penulis berpendapat bahwa adanya istilah itu bukan karena berbagai dialek yang digunakan sehari-hari oleh penduduk yang terdapat di daerah Riau, namun karena telah berkembangnya suatu ragam bahasa baku di Kesultanan Riau masa lampau yang dipergunakan sebagai alat komunikasi resmi atau formal. Ragam bahasa formal ini tidak hanya terdapat di daerah Riau saja, tetapi juga di daerah lain, seperti Aceh, Palembang, beberapa daerah di Kalimantan dan Halmahera. Dengan kata lain, ragam bahasa formal itu terdapat di seluruh dunia Melayu. Untuk membicarakan perkembangan bahasa Melayu, analisis dunia Melayu sangat penting. Penulis teringat pada usaha Dr. Russell Jones di London untuk mencarikan suatu istilah dalam bahasa Inggris sebagai pengganti “the Malay World”.

Apabila secara ketat kita hendak membatasi bahasa Melayu di Riau saja, penulis kira kurang tepat, walaupun di masa lampau istilah bahasa Melayu Riau sering digunakan. Kalau penulis tidak salah tafsir, implikasi dari istilah bahasa Melayu Riau itu ialah bahasa Melayu tinggi, bahasa Melayu formal, dan bahasa Melayu baku. Penulis memperkirakan hal ini ada hubungannya dengan pendidikan di Sekolah Raja di Bukittinggi. Bahasa Minangkabau juga merupakan bahasa Melayu, namun berbeda dengan bahasa Melayu Riau, karena posisi bahasa Melayu Riau; sebagai bahasa Melayu tinggi tadi. Guru-guru di Minangkabau di masa lampau sering menggunakan istilah bahasa Melayu Riau; sebuah istilah yang mereka peroleh dari guru-guru berbangsa Belanda.

Bila kita mengikuti pemikiran beberapa sarjana Belanda, terlihat bahwa yang dianggap bahasa Melayu baku ialah bahasa yang banyak dikembangkan oleh guru-guru Melayu, terutama yang bertugas di Balai Pustaka. Profesor A. Teeuw pernah menulis:

One can go further and say that it was this very group of Minangkabau school teachers at Balai Pustaka who made a significant contribution to the standardization of Malay which is often called Balai Pustaka Malay; it is the basis from which present-day Bahasa Indonesia is developed (Teeuw, t.t.: 119).

Walaupun Profesor Teeuw tidak menggunakan istilah bahasa Melayu Riau, namun yang dimaksud dengan istilah bahasa Melayu Balai Pustaka itu pada dasarnya adalah bahasa Melayu Riau dalam pengertian kita di atas. Sarjana Belanda lain, Profesor G. W. J. Drewes, yang pernah bertugas di Balai Pustaka juga menekankan pentingnya Balai Pustaka dalam hubungannya dengan pembakuan bahasa. Menurut Drewes, bahasa manuskrip yang dikirimkan oleh Balai Pustaka sering diperbaiki oleh Engku-engku Balai Pustaka dan para pengarang. Pengirim hendaknya tidak merasa tersinggung, bahkan harus berterima kasih atas perbaikan-perbaikan itu (Drewes, 1981: 102–103).

Bila kita sepakat bahwa bahasa Melayu Balai Pustaka kemudian berubah nama menjadi bahasa Indonesia, maka sumbangan bahasa Melayu Riau terhadap perkembangan bahasa Indonesia adalah luar biasa besarnya. Bahkan, barangkali tidak tepat kalau kita sebut hanya dengan istilah sumbangan. Bagi bahasa Indonesia, bahasa Melayu lebih dari sekadar sumbangan. Ia merupakan pelimpahan yang berwujud bahasa Indonesia modern. Penulis berpendapat bahwa bahasa Indonesia tidak harus dilihat hanya sebagai kelanjutan dari bahasa Melayu Balai Pustaka atau bahasa Melayu Riau. Dengan pendapat semacam ini, orang akan dapat mengemukakan argumentasi, bahwa ragam bahasa Melayu lain juga merupakan unsur penting dalam menunjang terbentuknya bahasa Indonesia sebagai bahasa modern. Bisa saja kemudian dikatakan, bahwa bahasa Melayu Riau bukan merupakan pendorong, melainkan malah menjadi penghambat tumbuhnya bahasa Indonesia.

Pada kasus tersebut, penulis teringat pada perdebatan antara Profesor Drewes dengan Dr. C. W. Watson (Watson, 1971: 417–433). Perdebatan itu tidak langsung berkait dengan bahasa Indonesia, melainkan tentang sastra Indonesia. Namun, implikasinya juga menyangkut bidang bahasa. Profesor Drewes menganggap Dr. Watson kurang menekankan pentingnya peran Balai Pustaka, dan mengingatkan jasa-jasa penulis pada masa pra-Balai Pustaka, di antaranya penulis-penulis Tionghoa. Memang tidak dapat disangkal bahwa tulisan-tulisan yang terdapat di berbagai surat kabar menggunakan bahasa Melayu rendah. Dengan demikian, bahasa Melayu Riau dianggap tidak memainkan peran dalam mendorong terbentuknya bahasa Indonesia modern.

Bahasa Melayu Riau pada awalnya tentu lebih banyak digunakan sebagai alat komunikasi dalam membicarakan hal-hal yang lebih bersifat tradisional, sedangkan bahasa Melayu rendah di surat-surat kabar sering membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan modern, seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain. Dengan sendirinya, bahasa Melayu rendah merupakan alat modernisasi. Akan tetapi, bagaimana dengan bahasa Melayu Riau yang dipakai di sekolah-sekolah? Bahasa ini tentu sedikit banyak dipakai pula untuk membicarakan hal-hal yang ada hubungannya dengan zaman modern.

Spekulasi yang cukup menarik ialah bagaimanakah bentuknya andaikan bahasa Melayu (Riau) tidak ada atau tidak dijadikan basis pembentukan bahasa Indonesia? Apakah bahasa Melayu rendah akan menjadi bahasa Indonesia? Apakah bangsa Indonesia mau menerima “bahasa rendahan” itu menjadi bahasa nasional? Seperti diketahui, dunia mengenal lahirnya bahasa nasional yang berasal dari bahasa rendahan atau creole.


3. Respektabilitas

Pengalaman di beberapa negara berkembang, terutama negara-negara baru yang mempunyai masyarakat yang sudah tua, pemilihan bahasa resmi atau bahasa nasional sering terkait dengan soal tradisi besar. Banyak orang berpendapat bahwa bahasa yang mempunyai martabat adalah bahasa yang mempunyai tradisi besar, yaitu bahasa yang di masa lampau sudah dipakai sebagai kendaraan budaya tinggi, baik dalam bentuk sastra maupun dalam bentuk pemikiran atau keilmuan pada umumnya. Sebaliknya, dalam alam modern yang amat diperlukan adalah efisiensi, kepersisan, dan perbendaharaan kata yang cukup untuk mengungkapkan peradaban modern.

Antara tradisi besar dan tuntutan dunia modern tidak selalu terdapat kaitan yang erat. Ada bahasa modern yang efisien dan dapat memenuhi tuntutan kehidupan modern, tetapi ada pula yang tidak. Bila yang terjadi adalah keadaan yang terakhir, maka terjadilah hal-hal yang menarik dalam pembinaan bahasa. Adakalanya pengaruh tradisi besar itu sangat dominan pada suatu budaya sehingga orang rela mengorbankan efisiensi demi untuk melestarikan tradisi besar itu. Namun, ada pula budaya yang tidak segan-segan mengorbankan kebanggaan akan tradisi besar demi untuk mencapai suatu efisiensi di bidang bahasa. Contoh yang terbaik dari pengorbanan kebanggaan akan tradisi besar adalah bahasa Jepang, sedangkan contoh yang berlawanan dapat ditemukan di beberapa negara, seperti India dan beberapa negara Arab. Untuk kasus Indonesia, bahasa Jawa mungkin cenderung dapat digolongkan pada contoh terakhir.

Bagaimana dengan bahasa Melayu? Apakah bahasa Melayu dapat dikatakan mempunyai tradisi besar? Secara relatif, penulis berpendapat bahwa bahasa Melayu dapat dikatakan memiliki tradisi besar dalam konteks Nusantara. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa di Nusantara ini terdapat dua tradisi besar, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Dari segi umur dan ukuran, martabat tradisi Jawa terlihat lebih besar daripada martabat tradisi Melayu. Namun, dalam memenuhi tuntutan adaptasi terhadap dunia modern, bahasa Melayu rasanya lebih unggul. Dalam hubungan ini, Profesor Marcel Bonneff mengemukakan sebuah tulisan yang sangat menarik tentang persoalan yang dihadapi oleh bahasa Jawa pada masa-masa sebelum diterimanya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia (Bonneff, 1981: 35–53).

Menurut Bonnef, bahasa Melayu ternyata dapat memenuhi tuntutan masyarakat Indonesia untuk mempunyai sebuah bahasa yang mempunyai latar belakang yang cukup bermartabat. Dengan Selat Malaka sebagai pusat, bahasa Melayu pernah jaya di zaman kejayaan orang Melayu, terutama di zaman Malaka. Di samping itu, kejayaan Kerajaan Aceh, Kerajaan Palembang, dan lain-lain telah meninggalkan sekumpulan manuskrip Melayu yang menyebabkan bahasa ini menjadi bahasa tertulis yang relatif mempunyai semacam kebakuan. Tanpa peninggalan manuskrip itu, bahasa Melayu (Riau) tidak akan banyak artinya. Bahasa Melayu memperoleh semacam respektabilitas berkat dipakainya bahasa tersebut untuk keperluan perdagangan, pemerintahan, dan keilmuan di masa lampau. Inilah sumbangan yang cukup besar dari bahasa Melayu (Riau) kepada perkembangan bahasa Indonesia di kemudian hari. Bahasa Melayu dengan tradisi besar dapat memberikan kebanggaan kepada para pemakainya, bahwa bahasa itu adalah suatu bahasa peradaban dan kebudayaan, bukan hanya dialek-dialek yang berserakan yang digunakan oleh kelompok-kelompok penduduk yang terbelakang. Bahasa Melayu tidak berkembang dari suatu pidgin dan creole akibat kedatangan bangsa Barat ke Nusantara.

Bahasa Melayu yang telah menjelma menjadi bahasa Indonesia telah menempatkan dirinya dalam suatu posisi khusus di tanah air tercinta ini. Kebesarannya memang tidak akan dapat diukur secara kuantitatif dan sisi kepuasan, namun umumnya orang Indonesia dapat merasakannya. Penulis berpendapat bahwa orang yang dapat merasakan semua itu tentulah orang yang menganggap bahasa Melayu adalah miliknya. Berbahagialah semua orang Melayu yang mencintai bahasa nenek moyangnya dan berbahagialah seluruh bangsa Indonesia yang sudah mempunyai bahasa Indonesia yang merupakan sumbangan bahasa Melayu, terutama bahasa Melayu Riau.


4. Manfaat Praktis

Walaupun sumbangan bahasa Melayu dalam bentuk tuah dan martabat terhadap perkembangan bahasa Indonesia cukup penting, namun bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan hal tersebut tidak akan banyak artinya sekiranya bahasa persatuan kita itu tidak memadai untuk dipakai sebagai alat komunikasi modern. Sebenarnya, di sinilah letak kekuatan bahasa Melayu yang dikembangkan itu, yaitu ia dapat memenuhi kebutuhan kita akan bahasa modern itu. Bahasa Melayu amat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan dan kemajuan zaman. Bahasa Melayu tidak merasa janggal menerima pengaruh, baik dalam kosakata maupun pada gramatikalnya, bahkan dalam sistem bunyinya sekalipun. Sebab utama adanya karakter ini tentu ada hubungannya dengan sejarah bahasa Melayu dan sejarah orang Melayu.

Pada masa lampau, kesultanan yang berkembang di daerah Riau dan Selat Malaka pernah menjadi pusat pertemuan bangsa. Dalam suasana internasional inilah bahasa Melayu berkembang dan menempuh proses pembakuan. Pengaruh bahasa Arab yang merupakan kendaraan pikiran-pikiran baru diserap dengan cepat oleh bahasa Melayu, sebagaimana sebelumnya bahasa Melayu juga sudah menyerap unsur-unsur bahasa Sanskerta. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa bahasa Melayu merupakan alat penerimaan dan pengembangan pikiran-pikiran baru. Bahasa Melayu adalah alat modernisasi di zamannya.

Kedatangan bangsa Barat ke Nusantara ini antara lain juga telah membawa pikiran-pikiran baru. Secara bertahap, pemikiran baru ini telah diserap oleh bahasa Melayu. Setelah pendidikan modern diperkenalkan pada pertengahan abad ke-19, bahasa Melayu dengan sifatnya yang sangat terbuka itu dengan cepat dapat memainkan peran. Kata-kata dari bahasa Barat dan beberapa bunyi serta sistem penyampaian buah pikiran Barat pun mulai memasuki bahasa Melayu. Pada umumnya, bahasa-bahasa daerah lain tidak dapat menyerap pengaruh asing itu semudah bahasa Melayu.

Walaupun pada masa lampau kaum terpelajar Indonesia memperoleh ilmu pengetahuan melalui bahasa Belanda, pada sebagian besar rakyat kita pengenalan ide-ide baru tidak ditangkap melalui bahasa Belanda, melainkan melalui bahasa Melayu. Di masa transisi dan kehidupan tradisional yang akan memasuki kehidupan dunia modern, bahasa Melayu sering diasosiasikan orang dengan kehidupan yang non-tradisional. Bagi orang Minangkabau misalnya, pemakaian bahasa Melayu Riau jelas dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak tradisional. Bahasa Melayu Riau dianggap sebagai bahasa tinggi, bahasa kantor, bahasa sekolah, dan bahasa pemerintahan modern.

Oleh karena karakteristik yang mudah menyesuaikan diri itu, bahasa Melayu cepat menunjukkan keunggulannya dalam menghadapi tuntutan modern dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah lain. Dalam hubungan ini tak dapat dilupakan pula peran yang dimainkan oleh bahasa Melayu rendah atau bahasa koran. Kegunaan praktis bahasa Melayu segera terbukti bahwa bahasa Melayu amat mudah dipelajari, baik oleh orang Indonesia maupun oleh orang asing. Dengan kata lain, mudah dipelajari untuk diambil manfaat akan kegunaannya yang praktis.

Bila kita mempelajari bahasa secara ilmiah, semua bahasa tentu mempunyai kesulitan-kesulitan tertentu. Di zaman transisi, masyarakat Indonesia cenderung melihat cara hidup baru seperti yang ditiru dari orang Eropa sebagai sesuatu yang hebat. Ini membawa akibat bahwa penggunaan bahasa Melayu yang sudah mulai menjadi bahasa modern dapat meninggikan gengsi para pemakainya, di samping memberi alat komunikasi yang relatif lebih efisien. Jadi, sumbangan bahasa Melayu Riau di bidang efisiensi bahasa juga cukup besar. Dalam hal ini, yang berjasa tentu adalah gaya bahasa Melayu baru, bukan bahasa Melayu klasik. Bahasa Melayu baru inilah yang besar sumbangannya terhadap pembentukan dan perkembangan bahasa Indonesia.

Sebenarnya, kita dapat menunjukkan kapan bahasa Melayu modern itu identik dengan bahasa Indonesia. Andaikan tanggal 28 Oktober 1928 kita ambil sebagai hari lahirnya bahasa Indonesia, maka pada tanggal itulah bahasa Melayu identik dengan bahasa Indonesia. Pada hari itu, kita tentu tidak tepat untuk menganggap bahwa bahasa Melayu memberi sumbangan terhadap bahasa Indonesia, sebab antara yang menyumbang dengan yang menerima sumbangan adalah sama. Pada hari itu, tidak timbul persoalan apakah bahasa Indonesia itu berasal atau berkembang dari bahasa Melayu, karena alasan yang telah disebutkan sebelumnya. Sumbangan dari bahasa daerah lain kepada bahasa Indonesia sebelum tanggal tersebut tidak ada sama sekali. Kondisi yang ada hanyalah kata-kata dari bahasa daerah lain yang sudah masuk ke dalam bahasa Melayu, yang sudah dianggap bagian bahasa Melayu. Sumbangan bahasa-bahasa daerah lain ke dalam bahasa Indonesia baru terjadi setelah bahasa Indonesia lahir secara resmi.

Kita sudah menganalisis bahwa sewaktu lahir, bahasa Indonesia sudah merupakan bahasa yang bermartabat dan mempunyai sifat-sifat sebuah bahasa yang tidak tradisional lagi. Pada waktu itu, bahasa Melayu Riau sudah merupakan bahasa yang mempunyai syarat-syarat yang diperlukan bagi suatu bahasa yang akan digunakan oleh suatu bangsa terhormat. Bahasa Melayu (Riau) yang sudah siap untuk menukar nama menjadi bahasa Indonesia tidak lahir dalam satu hari. Pertumbuhan dan pembinaan telah berlangsung sejak beberapa waktu dan untuk semua itu telah banyak orang yang ikut menyumbang. Mereka ini tidak terbatas pada orang Melayu saja. Penulis-penulis dari Jawa, Sunda, Bali, Sulawesi, dan lain-lain ikut secara aktif menyumbangkan hasil karya mereka dalam pembinaan bahasa Melayu modern tersebut. Kenyataan ini penulis lihat sebagai satu faktor penting yang telah mempermudah perubahan nama dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.


5. Ragam Melayu Modern
Orang Melayu yang cukup banyak berpartisipasi dalam pembentukan bahasa Melayu baku modern adalah orang Melayu Minangkabau (Anwar, 1976: 91–93). Dari sisi pembentukan bahasa, hal ini cukup menarik, karena bahasa Melayu Minangkabau berbeda dengan bahasa Melayu Riau. Di samping adanya perbedaan, persamaan yang dimiliki keduanya juga banyak. Dalam membicarakan bahasa komunikasi, kita mengenal antara lain masalah interferensi. Bila kita pelajari karya tulis orang Minangkabau yang terbit sebelum Perang Dunia II, maka interferensi bahasa ibunya kentara sekali. Hal ini sangat berbeda dengan karya tulis dari suku lain. Para penulis yang berasal dari Jawa yang menulis dalam bahasa Melayu Riau misalnya, tidak memperlihatkan interferensi yang mencolok dari bahasa ibunya. Interferensi itu jelas terlihat apabila mereka tidak menulis dalam bahasa Melayu Riau baku, melainkan dalam bahasa Melayu koran. Misalnya dalam surat kabar Hindia Dipa yang terbit di Surabaya atau beberapa penerbitan lainnya di Pulau Jawa.

Ragam bahasa Melayu (Riau) yang dijadikan bahasa baku sebenarnya lebih banyak merupakan sebuah ragam baru bahasa Minangkabau. Dalam hal ini, bahasa Melayu Riau telah mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap bahasa Minangkabau. Orang-orang Minang yang menulis dalam bahasa Melayu Riau telah melahirkan suatu ragam bahasa Melayu yang pada masa itu dianggap sesuatu yang baku. Oleh karena Engku-engku ini mempunyai kedudukan penting di Balai Pustaka atau sebagai guru di sekolah, maka ragam bahasa yang mereka hasilkan dianggap cukup penting. Kita tidak dapat melupakan bahwa banyak juga dari mereka yang mempunyai keahlian yang tinggi dalam penggunaan bahasa. Hal ini tentu antara lain karena mereka mendapat pendidikan modern yang baik.

Akan tetapi, sebabnya tentu bukan hanya itu saja. Para penulis Belanda yang melahirkan karya tulis yang baik dalam bahasa Melayu ternyata tidak terlalu banyak, walaupun mereka sangat ahli di bidang studi bahasa Melayu. Hal ini tidak mengherankan sedikit pun, sebab hasil kajian mereka biasanya dituliskan dalam bahasa Belanda yang baik, bukan dalam bahasa Melayu. Sebaliknya, seorang penulis Minang yang menguasai bahasa Belanda juga cenderung memiliki kemampuan yang baik dalam penguasaan bahasa Melayu. Namun, tidak sedikit pula penulis itu yang mungkin kurang menguasai bahasa Belanda, walau penguasaan bahasa Melayunya cukup bagus. Bagaimanapun juga, para penulis dan guru-guru yang berasal dari daerah Minangkabau telah melahirkan suatu ragam bahasa Melayu Riau yang dijadikan bahasa baku bagi bahasa Melayu di masa-masa sebelum Perang Dunia II. Orang Belanda menamakan ragam bahasa Melayu itu sebagai bahasa Melayu Balai Pustaka.

Dalam bidang pendidikan, ragam bahasa Melayu Balai Pustaka ini memainkan peran penting. Oleh karena penggunaan bahasa semacam ini sangat koservatif, maka untuk keperluan pembahasan soal-soal budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain, bahasa Melayu juga cepat berkembang dalam ragam yang agak berbeda. Pelopor tulisan-tulisan seperti ini adalah kaum terpelajar Indonesia yang kebanyakan berasal dari dunia Melayu. Mereka tetap berorientasi pada bahasa Melayu Riau, walaupun untuk keperluan gaya bahasa dan efektivitas isi, mereka juga mengadopsi bahasa-bahasa Barat, terutama bahasa Belanda. Sangat jarang terlihat penggunaan kata-kata atau cara berbahasa yang kurang cocok dengan jiwa dan semangat bahasa Melayu atau bahasa Minangkabau di dalam bahasa yang mereka gunakan.

Dalam hal ini, pengertian bahasa Melayu Riau sebaiknya jangan dipahami terlalu ketat dan juga jangan terlalu menyempitkan konsep Melayu, terutama bila membicarakan persoalan bahasa. Kenyataan bahwa bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa Indonesia itu sebenarnya tidak langsung menjadi bahasa Indonesia adalah salah satu alasannya. Artinya, bahasa Melayu tradisional tidak langsung berubah menjadi bahasa Indonesia modern. Perubahan itu melalui satu bentuk transisi, yaitu satu bentuk ragam bahasa Melayu yang dihasilkan oleh para penulis yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia, tetapi model bahasanya didominasi oleh pengaruh bahasa Minangkabau. Pengaruh ini boleh saja dianggap menguntungkan atau tidak menguntungkan, tetapi itulah kenyataannya.

Menurut pengamatan penulis, pengaruh itu ada yang positif, ada pula yang negatif. Pengaruh positif antara lain tercermin dari sumber pikiran jernih yang diperlihatkan oleh ragam bahasa itu. Sementara pengaruh negatif muncul dari alur dan kepatutan pikiran yang kacau, tidak tahan dengan analisis yang tajam, dan yang tidak pantas dinyatakan dengan gaya dan ragam bahasa. Perbedaan pendapat tentang hal ini tentu wajar. Kejernihan pikiran, clear thinking, itulah tampaknya merupakan faktor yang sangat dipentingkan oleh para penulis masa itu. Menurut penulis, faktor kejernihan pikiran ini merupakan sumbangan bahasa Melayu yang besar terhadap pembentukan bahasa Indonesia di kemudian hari. Apabila kemudian faktor ini terlihat kurang mendominasi kehidupan bahasa Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa sumbangan bahasa Melayu terhadap perkembangan bahasa kita sudah merosot.

Orang Melayu pada umumnya suka berdebat dan bertanding dalam penggunaan bahasa. Budaya Melayu secara keseluruhan menekankan pentingnya kepandaian penggunaan bahasa dalam percaturan hidup bermasyarakat. Hal inilah yang menyebabkan tumbuhnya kejernihan berpikir, sebab orang tidak mau menjadi bahan tertawaan orang lain karena mengemukakan hal-hal yang tidak didukung oleh argumentasi yang kuat. Argumentasi yang kuat berasal dari kekuasaan yang diandalkan. Kekuasaan itu terletak dalam penggunaan bahasa, bukan pada faktor eksternal, seperti pangkal lengan (kekuatan). Bahasa Melayu tidak suka pada obskurantstyle.

Ragam Melayu modern yang dihasilkan agak berbeda dengan ragam tradisional yang berorientasi pada istana serta penghormatan kepada istana dan kerabat raja. Peran terakhir ini memang cocok bagi orang yang berbahasa Minangkabau dengan latar belakang budaya yang tidak berorientasi pada istana. Seandainya bahasa Melayu tidak diubah menjadi suatu bahasa yang merakyat, maka pergerakan nasional akan sulit menerimanya sebagai bahasa persatuan. Hal ini cukup menarik karena bahasa yang pada mulanya agak berorientasi feodal itu dapat berubah menjadi bahasa rakyat yang bersifat demokratis.

Semua pergerakan nasional utama Indonesia mempunyai orientasi yang demokratis. Golongan nasionalis kita dari segala aliran bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka dan demokratis. Oleh karena itu, mereka enggan menggunakan bahasa yang dianggapnya kurang menunjukkan ciri-ciri demokrasi dalam kata-kata dan tata-cara penggunaannya. Bahasa Melayu Riau modern dianggap memenuhi syarat untuk dipakai sebagai alat komunikasi suatu masyarakat merdeka yang demokratis. Kaum nasionalis Indonesia mempraktikkan cara berdemokrasi dengan memupuk kemerdekaan untuk menyatakan pendapat dan beradu argumentasi. Sebenarnya, pada lingkungan yang sangat terbatas, penggunaan bahasa Belanda lebih memuaskan buat kebanyakan mereka. Akan tetapi, untuk mencakup lingkungan yang lebih luas, mereka memerlukan bahasa Melayu. Dengan demikian, sumbangan bahasa Melayu dalam bidang perjuangan bangsa ini sangat besar nilainya.


6. Sumbangan Bahasa Melayu Dewasa Ini

Dewasa ini, bahasa Indonesia mendapat sumbangan yang terus-menerus dari berbagai bahasa daerah di Indonesia. Sumbangan yang agak menonjol terlihat datang dari Pulau Jawa. Kata-kata Sanskerta akhir-akhir ini cukup banyak masuk ke dalam bahasa Indonesia. Adapun sumbangan yang berasal dari bahasa Melayu pada umumnya terlihat semakin berkurang. Bahasa Melayu seolah-olah seperti kehabisan darah untuk ikut memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Dalam bidang ketatabahasaan dan berbagai ungkapan pun terlihat semakin menurunnya pengaruh bahasa Melayu dalam bahasa Indonesia.

Sebab dari gejala tersebut tentu banyak. Faktor percakapan keseharian misalnya. Dalam percakapan sehari-hari orang Melayu sering menggunakan kata jering untuk menyatakan buah yang mempunyai bau khusus yang disukai banyak orang Indonesia. Penulis memperoleh semacam kesan bahwa bila berbicara dalam bahasa Indonesia, orang Melayu terpelajar cenderung menggunakan kata jengkol dan merasa lebih afdol (sesuai) dengan kata jengkol dibandingkan dengan kata jering. Bila hal ini memang dapat dibuktikan, maka dapat diartikan bahwa masalah jering versus jengkol ini adalah suatu sebab menurunnya sumbangan bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia. Orang Melayu tampaknya merasa lebih afdol bila menggunakan kata yang berasal dari Pulau Jawa. Barangkali salah satu sebab pendorong ke arah ini ialah kenyataan bahwa jumlah orang Melayu yang cerdas dan belajar di perguruan tinggi di Jawa cukup besar. Tak dapat dipungkiri kalau lingkungan sosialnya sangat berpengaruh terhadap penggunaan bahasa. Di sisi lain, pengaruh kaum elit dalam pembentukan bahasa peradaban sangat besar.

Faktor penting lain yang menyebabkan berkurangnya sumbangan bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia adalah faktor demografi dan faktor politik. Orang Melayu bukan bagian terbesar dari penduduk Indonesia. Mereka juga tidak dapat dikatakan sebagai pusat kekuasaan. Bahasa Melayu sekarang mungkin semacam tahu diri, sehingga lebih suka mengikuti daripada diikuti. Kalau dalam hal jering saja orang Melayu lebih menyukai jengkol, maka dapat diduga betapa sikap bahasa Melayu sekarang tentang kata yang jauh lebih penting daripada sekadar nama buah tersebut. Kata pengejawantahan, ambeg paramarta, sandang pangan, dan banyak lagi yang lain mulai terbiasa di telinga Melayu.

Pada masa lampau, bahasa Melayu sangat keras mempertahankan kaidah dan ungkapan Melayu. Bahasa Melayu mewajibkan para pemakainya untuk mematuhi aturan-aturan yang ketat itu. Disiplin penggunaan bahasa amat dipentingkan. Hal ini merupakan sumbangan dari bahasa Melayu terhadap perkembangan bahasa Indonesia, yaitu suatu sikap berbahasa yang sangat hati-hati. Kita mengetahui bahwa apa yang dinamakan bahasa Melayu koran atau rendahan tidak atau kurang mementingkan aspek ini. Masalah yang sangat berat dirasakan saat ini ialah kaburnya rujukan.

Walaupun peran bahasa Melayu dalam perkembangan bahasa Indonesia sekarang sudah menurun, masih banyak para ahli bahasa yang tidak berkeinginan untuk membuang pola Melayu begitu saja. Dalam usaha perluasan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kita masih melihat orang memperhatikan tuntutan-tuntutan kepatutan bahasa Melayu yang sudah dimodernisasi. Sumbangan yang diberikan oleh bahasa Melayu tercermin dalam penggunaan bahasa yang menghendaki kejernihan pikiran itu tadi. Bahasa Melayu lebih menekankan kepada kejernihan jalan pikiran daripada gramatikal yang benar dalam arti teknis yang ketat. Cobalah lihat ungkapanungkapan dan peribahasa Melayu! Ungkapan dan peribahasa Melayu tidak selalu seragam. Penggunaan bahasanya dari sudut teknis gramatikal agak bervariasi. Akan tetapi, pikiran yang dikandungnya sangat jelas. Salah satu unsur keindahannya terletak pada ketajaman ungkapan katanya, bukan terletak pada kekaburan dan kegaibannya.

Akhirnya patut disebutkan di sini bahwa kita semua mengetahui betapa eratnya hubungan antara bahasa dan budaya. Sumbangan bahasa Melayu terhadap perkembangan bahasa Indonesia juga merupakan sumbangan budaya, sumbangan alam, dan sumbangan cara berpikir. Bahasa dan kebudayaan Indonesia akan terasa miskin sekiranya sumbangan itu hanya datang dari bahasa dan budaya Melayu. Sebaliknya, jika bahasa dan budaya Melayu tak mau menyumbang lagi, maka bahasa dan budaya Indonesia akan kurang kaya.


7. Budaya Dan Bahasa

Dalam pembahasan tentang sumbangan bahasa Melayu terhadap bahasa Indonesia perlu juga disinggung kaitan antara budaya dan bahasa Melayu serta budaya dan bahasa Indonesia. Kita mengetahui banyak orang yang menganggap bahwa antara budaya dan bahasa terdapat hubungan yang sangat erat. Kita mengenal slogan yang berbunyi “bahasa menunjukkan bangsa”. Di kalangan para ahli bahasa dikenal hipotesis Sapir dan Whorf yang menyatakan bahwa budaya ditentukan oleh bahasa. Pendapat Sapir dan Whorf ini sangat banyak kelemahannya sehingga jarang diterima orang secara utuh. Pendapat orang awam atau slogan yang berbunyi “bahasa menunjukkan bangsa” juga sulit dibuktikan secara menyakinkan. Terlalu banyak bahasa di dunia ini yang boleh dikatakan terlepas dari induk kebudayaannya. Bahasa Inggris di Amerika tidak dapat kita katakan menunjukkan kebudayaan Inggris secara keseluruhan. Bahasa Arab, terutama di masa-masa kejayaan Islam dulu, lebih merupakan hasil kebudayaan Islam daripada kebudayaan Arab. Bahasa Arab banyak dikembangkan oleh orang-orang yang bukan berasal dari bangsa Arab. Bahkan, orang Yahudi dan Kristen pun mempunyai andil dalam perkembangan bahasa Arab.

Bila kita menengok bahasa Melayu, maka hal yang hampir serupa juga terlihat. Bahasa Melayu dikembangkan bukan hanya oleh orang Melayu. Kita dapat menunjuk nama Nuruddin Arraniri yang tidak dibesarkan dalam budaya Melayu dan bukan berasal dari orang Melayu. Setelah beberapa waktu tiba di Aceh, Nuruddin Arraniri telah menulis karya besarnya dalam bahasa Melayu. Abdullah Munsyi juga demikian. Demikian juga tokoh-tokoh lainnya. Begitulah hakekat bahasa atau beberapa bahasa yang akhirnya menjadi bahasa umum yang besar. Bahasa Inggris dikembangkan oleh berbagai bangsa, seperti orang Scot, orang Wales, orang Irlandia, dan lain-lain. Bahasa yang terlalu erat hubungannya dengan budaya tertentu dan sulit untuk melepaskan diri dari budaya asalnya jarang yang diterima orang sebagai bahasa umum.

Faktor yang melonggarkan kaitan antara bahasa dan budaya dalam pengertian di atas sebenarnya juga merupakan sumbangan bahasa Melayu terhadap bahasa Indonesia. Bahasa yang terlalu erat kaitannya dengan budayanya sendiri kadang-kadang dapat merupakan sesuatu yang mengungkung. Sebaliknya, bahasa yang tidak terlalu erat hubungannya dengan budaya dapat menjadi alat untuk menuju perluasan daerah pembebasan. Bahasa Melayu yang awalnya sangat erat kaitannya dengan budaya Melayu secara berangsur-angsur berubah menjadi bahasa yang agak netral budaya dan akhirnya menjelma menjadi bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia kemudian menjadi bahasa masyarakat Indonesia yang mempunyai latar belakang budaya yang beraneka ragam.?